Eskalasi Konflik: Thailand Bergerak untuk Kuasai Kota Strategis di Kamboja

Eskalasi Konflik: Thailand Bergerak untuk Kuasai Kota Strategis di Kamboja

04 January 2026, 11:47 WIB | International |

Eskalasi Konflik: Thailand Bergerak untuk Kuasai Kota Strategis di Kamboja **Jakarta, 12 Desember 2025** — Ketegangan antara Thailand dan Kamboja memasuki babak baru, setelah militer Thailand dilaporkan mulai melakukan pergerakan signifikan menuju kota besar di wilayah Kamboja, Boeung Trakoun, yang terletak di kawasan perbatasan dekat Poi Pet. Ini menandai potensi perebutan kota besar pertama Kamboja sejak konflik antar kedua negara memanas. Menurut laporan dari sumber militer di kawasan perbatasan, pasukan darat Thailand telah mulai memobilisasi kekuatan mereka ke Boeung Trakoun. Kota strategis ini sebelumnya telah menjadi sorotan karena memiliki dua instalasi militer penting milik Angkatan Bersenjata Kamboja. Kedua fasilitas tersebut, menurut catatan, sempat direbut oleh Thailand dalam operasi militer pada bulan Juli lalu, namun sempat diklaim kembali oleh pihak Kamboja menyusul penarikan sebagian pasukan Thailand. Langkah agresif militer Thailand ini diperkirakan akan memperburuk eskalasi konflik yang selama beberapa bulan terakhir meningkat, terutama di area perbatasan yang rawan. Penguasaan atas Boeung Trakoun dinilai sangat krusial, mengingat posisi geografisnya yang strategis dan kedekatannya dengan jalur perdagangan utama antara kedua negara. Pihak Kamboja sendiri hingga kini belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait aksi terbaru Thailand. Namun, sejumlah media lokal melaporkan peningkatan kesiagaan militer di sekitar kota Boeung Trakoun. Warga sipil setempat dilaporkan mulai mengungsi ke wilayah yang dinilai lebih aman. Konflik antara dua negara bertetangga Asia Tenggara ini berakar dari sengketa wilayah dan perbatasan yang sudah berlangsung selama beberapa dekade. Meski sejumlah kesepakatan damai pernah diupayakan, namun klaim atas wilayah dan sumber daya masih terus menjadi sumber perselisihan berkepanjangan. Komunitas internasional menyerukan kedua negara untuk menahan diri dan mengedepankan jalur diplomasi guna menghindari korban sipil dan kerusakan infrastruktur vital. Hingga berita ini diterbitkan, belum ada konfirmasi dari organisasi keamanan regional terkait langkah mediasi atau intervensi diplomatik lanjutan.

Bagikan Artikel:

Kembali ke Beranda

Berita Terkait